Logo

PEMAAF, AKAN TERBEBAS DARI MASALAH

PEMAAF, AKAN TERBEBAS DARI MASALAH

"PEMAAF"

 

TERBEBAS DARI MASALAH

 

 

Dendam nyaris selalu disertai sakit hati. Dan itu sering menjadi dasar untuk melakukan sebuah pembalasan.

 

Saat orang lain melakukan sesuatu yang tidak disukai, kita ingin melakukan pembalasan. Jika ditampar perlahan, balasan nya saja bisa saja sangat keras sekali.

 

Ada tiga komponen yang menghidupi dendam yaitu :

 

  • Perbuatan orang lain, rasa sakit hati dan pembalasan.

 

Mari dibahas, satu demi satu. Pertama, perbuatan orang lain kepada kita.

 

Dalam banyak situasi, kita tidak bisa mengendalikan perbuatan orang lain.

 

Kita sama sekali tidak memiliki hak untuk menyuruh atau melarang orang lain untuk melakukan atau menghindari sebuah perbuatan.

 

Paling banter, hanya bisa menghimbau. Misalnya dengan mengatakan, : “Maaf Mas, jika mau merokok jangan diruangan ber – AC seperti ini dong….”

 

Apakah orang itu akan berhenti atau pindah ketempat terbuka atau memasabodohkan perkataan kita; itu diluar kuasa.

 

Bahkan, sekalipun seorang atasan; kita hanya bisa mengatakan, : “Optimalkan jam kerjamu” Atau : “Lakukan kegiatan ekstra untuk perusahaan” Atau : “Jangan terlambat masuk kerja” Kita bisa melakukannya sebatas itu.

 

Sekalipun melakukan semuanya itu atas kewenangan dan demi kebaikan organisasi dan diri sendiri tetapi dimata mereka, kita tidak lebih dari seorang atasan yang bawel.

 

Kita tidak perlu heran. Sebab, sama sekali tidak bisa mengontrol tindakan atau perbuatan orang lain.

 

Dengan kata lain; kita sama sekali tidak memiliki kuasa untuk mempengaruhi ‘will’ seseorang. Karena, ‘kehendak’ adalah hak setiap manusia.

 

Seperti yang ditahui; ada orang yang mampu mengarahkan kehendaknya kepada hal – hal postif dan produktif dan ada pula yang sebaliknya.

 

  • Rasa sakit hati.

 

Mungkin kita bisa mengatakan ‘sakit sekali hati ini’. Namun, bisakah menemukan dimanakah letaknya rasa sakit hati itu ?

 

Dibawa ke rumah sakit pun tidak akan membantu untuk menemukan letak rasa sakit itu.

 

Mengapa ? Karena sakit hati adanya diawang – awang. Yang bisa menjangkaunya hanyalah perasaan.

 

Liver kita sehat walafiat tetapi, mengapa merasakan sakit begitu rupa ? Karena kita membiarkan perasaan merengkuh rasa sakit itu.

 

Membawanya masuk kedalam hati kita. Seandainya tidak mengizinkan perasaan menggapainya maka tidak akan merasakannya.

 

Oleh karena itu, sakit hati sama sekali tidak berhubungan dengan tindakan orang lain; melainkan dengan diri sendiri.

 

Jika tidak menginginkan rasa sakit hati itu maka tindakan apapun yang dilakukan oleh orang lain, tidak akan berhasil menjadikan sakit hati.

 

Ada orang yang menghina sebegitu rupa; namun, tidak mengizinkan perasaan membawa sakit hati. Maka akan tenang – tenang saja.

 

Ada orang yang menggosipkan tentang kekurangan – kekurangan kita. Tentu saja, gosip baru enak kalau ditambah dengan bumbu – bumbu, bukan ? Sehingga, dilingkungan kita terbentuk opini yang sedemikian buruknya tentang kita.

 

Kita sakit hati ? Tidak, jika kita tidak mengizinkan sang perasaan melakukannya.

 

Sekalipun tidak semua yang dikatakan tentang kita itu benar. Artinya, ada bumbu tambahan yang dilebih – lebihkan.

 

Jika kita benar – benar tidak seperti yang mereka katakan; maka itu tidak akan terlalu berpengaruh kepada baik atau buruknya diri kita.

 

  • PEMBALASAN.

 

Kita boleh melakukan pembalasan dengan 3 syarat; kalau kita lebih kuat, kalau ingin membuat dendam baru dan kalau kita kurang kerjaan.

 

Kalau mereka lebih kuat dan kita ngotot untuk melakukan pembalasan itu berarti kita bunuh diri. Jadi, melakukan pembalasan kepada pihak yang lebih kuat itu sama sekali bukanlah tindakan yang cerdas.

 

Jika benar – benar cerdas, lebih baik lupakan saja itu yang namanya balas dendam.

 

Buang jauh – jauh sifat dendam dan kita akan hidup dengan tentram. Mungkin bisa kita membalas dendam. Sehingga ketika dendam itu terbalaskan, hati kita sembuh dari sakit.

 

Pembalasan bisa menumbuhkan dendam lain di hati. Kemudian membalas lagi, lalu kita kembali membalasnya. Maka jadilah dendam itu berputar – putar sampai tidak tahu kapan saatnya untuk berhenti.

 

Sehingga, anak keturunan kita harus ikut menanggung dendam yang sama; meskipun mereka tidak tahu menahu apa penyebabnya.

 

Maukah kita mengorbankan anak cucu untuk sebuah dendam yang dibuat dengan orang lain ? Tidak. Marilah dilupakan dendam kesumat itu. Cukup sampai disitu saja.

 

Lagipula, kita bukanlah orang yang kekurangan pekerjaan. Ada seribu satu hal penting yang membutuhkan curahan perhatian.

 

Dengan melakukan semuanya itu, hidup akan menjadi lebih berarti.

 

Jika kita membuang – buang waktu, tenaga dan perhatian hanya untuk mengurusi dendam; maka semua hal positif yang menanti untuk bertindak akan terbengkalai begitu rupa. Sehingga, hidup kita menjadi kurang bermakna.

 

Jadi, bisakah mengatakan kepada diri sendiri bahwa; ‘Kita tidak memiliki waktu untuk membalas dendam’.

 

Oleh karena itu, setiap perbuatan buruk orang lain, tidak perlu dibalas dengan perbuatan buruk yang sama.

 

Dengan begitu, selain kita bisa menjadi manusia yang pemaaf; kita akan terbebas dari sesuatu yang kita sebut sebagai ‘sakit hati’ itu.

 

Kita juga bisa melakukan banyak hal lain yang lebih berguna dalam hidup ini. Jadi, perlukah membawa – bawa dendam ini disepanjang hidup kita ?

 


User ID
Password

Promotion

Jumlah Pengunjung

1369109